Donald Eugene Smith menyebutkan bahwa politisasi terjadi ketika sejumlah besar individu mulai memikirkan diri sendiri sebagai anggota kelompok-kelompok politik yang dikuasai oleh identitas keagamaan (Religion and Political Development, 1970).
Dengan demikian, mengasosiasikan aktor-aktor politik ke dalam kelompok dengan identitas keagamaan tertentu untuk meraih simpati dan dukungan atau untuk menjatuhkan mereka merupakan praktik politisasi.
Dalam konteks Indonesia, Islam menjadi identitas agama mayoritas, namun secara identitas politik bisa dikatakan minoritas. Islam dianut oleh mayoritas penduduk negeri ini, tetapi partai politik beridentitas Islam selalu beroleh suara minoritas.
Boleh jadi karena itulah Islam dan umat muslim di sini sangat rentan terhadap politisasi baik dalam kerangka kekuasaan maupun kebijakan.
Di sini wacana-wacana tentang Islam sebagai lokomotif sosial berlangsung tidak dalam satu gerbong. Ada sedikitnya tiga gerbong utama dari kelompok sosial muslim yang secara ideologis membentuk semacam perjuangan segi tiga, yaitu Islam tradisionalis, Islam modernis, dan Islam sekularis.
Tiga kekuatan ini kerap saling berhadapan satu sama lain sehingga tercipta konflik-konflik internal yang memecah kekuatan politik umat. Sementara itu di sisi lain, kekuatan-kekuatan politik di luar Islam semakin terkonsolidasi baik.
Akibatnya, segmen umat yang membawa-bawa agama ke dalam politik terseok-seok ketika harus berhadapan dengan kekuatan politik lawan. Walhasil, banyak yang akhirnya menggunakan identitas agama untuk meraih kembali simpati mayoritas muslim, yang secara teknis dan prinsipil tidaklah seragam.












































































